Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2015

Analisis konteks verbal nonverbal pada drama satu babak

ANALISIS KONTEKS PADA DRAMA SATU BABAK

Nilai Sebuah Kejujuran

     Lonceng berbunyi menandakan pukul 07.00 pagi. Dari sebuah SMA yang sangat terkenal, Nampak ada kejadian seorang guru yang melangkah menuju ruang kelas,dengan berwibawa guru tersebut masuk keruang kelas.

Bu guru     : Selamat pagi anak-anak….
                   Loh, kok tidak ada murid? Kemana larinya…aduh..aduh (Nampak bingung)
                  
Aline,Chelsea,Chole tergesa-gesa menuju kelasnya. Ketika didepan pintu mereka sangat kaget dengan keberadaan bu guru yang sedang marah.

Aline         : Maaf bu, kami te..ter..lambat (mengusap keringat)

Bu Guru    : Sekarang jam berapa? Mengapa kalian terlambat?! (menaruh kedua tangan nya  di pinggang)

Chelsea      : Heeh..itu bu tadi macet dijalan.

Chole         : Hehehehe no i….ya bu,

Bu Guru    : Emang kalian naik apa!

Chelsea,Alin, Chole : Jalan kaki bu. (serempak sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal)

Bu Guru    : (geleng-geleng kepala). Sudah sana duduk.(Merekapun beranjak duduk dengan saling merebut kursi tempat duduk. Dan akhirnya bersiap untuk memberi hormat dan ibu guru beranjak menuju meja guru).

Chole         : Ditempat duduk siap grak, kepada bu guru beri hormat.
(Chelsea,Aline,Chole memberi hormat seperti di upacara hari senin. Bu guru pun kaget tapi tetep ikut-ikutan hormat juga)

Bu guru     : Sekarang ibu akan absen kalian terlebih dulu.
                  Yang pertama  Aline Komariyah ( langsung jawab)
                  Chelsea  Syamsiah (langsung jawab)
                  Chole Bilagunnah (langsung jawab)

Bu Guru    : Silahkan dikumpulkan tugas karya tulis kemarin.

Aline         : Siap bu!
(Chole sebagai ketua kelas berjalan keliling mengumpulkan tugas karya tulis teman-temanya)

Bu Guru    : Karena kalian sudah membuat marah bu guru masukkan buku kedalam tas kalian, ibu akan mengadakan ulangan mendadak.

Chelsea      : Hah, ulangan apa lagi bu? Baru saja 2 hari yang lalu diadakan ulangan.
Bu guru     : Ketua kelas tolong dibagikan kertas folio ini kesemua siswa.

Chole         : Baik bu (sambil berjalan membagikan kertas folio. Suasana ruang kelas berubah menjadi gaduh karena setiap siswa mengeluh tentang diadakanya ulangan mendadak ini.)

Bu guru     : Pada ulangan kali ini,ibu ingin kalian menulis inti dari karya tulis yang kalian buat, tulis garis besarnnya saja. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan ulangan ini adalah 20 menit dari sekarang.

        (Kemudian siswa hening dan sibuk mengerjakan ulangan.Sedangkan ibu guru sibuk memeriksa tugas karya tulis yang tadi di kumpulkan. Ibu guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Aline dimana isinya sama persis dengan karya tulis milik Chelsea. Setelah 20 menit berlalu, kemudian kertas ulangan dikumpulkan)

Bu guru     : Baiklah silahkan kalian istirahat. Tolong Aline dan Chelsea tetap disini, ibu mau bertanya.(Chole keluar dari ruang kelas sedangkan Chelse dan Aline tetap ditempat duduk)

Bu guru     : Ibu minta kalian berdua jujur! Kenapa isi tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya sekalipun.

Aline         : Saya mengerjakan karya tulis itu sendiri bu.

Chelsea      : Saya juga mengerjakan karya tulis saya sendiri.

Bu Guru    : Lalu, bagaimana dengan ulangan tadi. Mengapa isi dari jawaban ulangan kalian tidak sama dengan isi karya tulis kalian? bisa menjelaskan ke ibu?
                  (lama Aline  dan Chelsea terdiam)

Bu Guru    : Baiklah kalau kalian tidak mau mengaku, ibu anggap kalian tidak mengerjakan tugas karya tulis dan tidak mengikuti ulangan tadi

Chelsea      : Maaf bu. Kalau saya jujur, apakah kalau saya berkata jujur maka ibu akan memaafkan saya?

Bu Guru    : Ibu lebih menghargai sebuah kejujuran daripada harus melihat anak didik ibu melakukan hal yang tidak jujur.

Chelsea      : Saya mendapatkan materi untuk tugas karya tulis dari internet bu. Saya langsung copy paste dan tidak saya baca lagi. Itulah mengapa ulangan tadi tidak sama dengan isi karya tulis saya.

Bu Guru    : Baiklah, alasan bisa ibu terima
Bu Guru    : Trus kamu Aline, ada yang bisa dijelaskan ke ibu?
Aline         : Saya minta tolong adik saya mengerjakan tugas karya tulis itu bu. Dan kelihatannya dia mencari sumber dari internet. Maaf bu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi

Bu Guru    : Baiklah kalau begitu. Tugas karya tulis dan ulangan kalian ibu kembalikan. kalian harus membuat karya tulis lagi dan dikumpulkan dalam 3 hari. Setelah itu, kalian harus mengikuti ulangan susulan yang materinya masih akan ibu pikirkan.

Aline dan Chelsea : Baik bu (dengan merasa bersalah merekapun keluar dari ruang kelas)


Analisis Konteks pada Drama Satu Babak:
1.      Konteks Verbal

      Konteks verbal disebut juga konteks linguistik karena membahas keterpaduan antarkalimat dan proposisi dalam wacana. Konteks verbal terlihat pada paragraf awal drama satu babak di atas yaitu pada proposisi yang padu yaitu menyebut seorang guru melangkah masuk kelas dengan berwibawa. Keterpaduan terlihat pada kata guru tersebut.
      Pada keseluruhan wacana drama satu babak di atas merupakan rentetan dialog yang saling berhubungan sehingga membentuk wacana drama yang padu. Hubungan yang ada hanya dipahami melalui pengertian pada tiap-tiap dialog, yakni tiga orang siswa yang datang terlambat masuk kelas, kemudian diperbolehkan masuk oleh guru. Ketika guru meminta siswa mengumpulkan tugas karya tulis dan mengadakan ulangan mendadak, muncullah konflik karena ada dua tugas milik Aline dan Chelsea yang isinya sama persis sehingga ibu guru meminta kedua siswa itu untuk jujur agar masalah dapat diselesaikan dengan baik. Dengan demikian, makna dan informasi yang diperoleh dari analisis wacana drama itu secara semantik tidak dapat dipisahkan dari konteks dan kepaduan. Kepaduan itu karena adanya informasi, konteks, dan makna yang tidak dapat dipisahkan dan berhubungan secara dinamis sehingga makna dan informasi wacana drama menjadi jelas.





2.      Konteks Nonverbal

      Konteks situasi yang terjadi dalam drama berjudul nilai sebuah kejujuran di atas berlatar belakang di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA), lebih tepatnya di sebuah kelas/ ruang belajar.
2.1     Hubungan antar tokohpada drama di atas yaitu hubungan antara guru (Bu Guru) dan siswanya (Chelsea, Alin, dan Chole) dalam pembelajaran di kelas. Konfliknya membahas kesamaan tugas karya tulis yang dibuat oleh Aline dan Chelsea sehingga ibu guru menasihati mereka berdua.
2.2     Waktu pertuturan yaitu pukul 07.00 pagi ketika bel sekolah berbunyi. Peristiwa yang terjadi dalam drama bersifat insidental, yaitu kejadian di mana beberapa orang siswa terlambat masuk kelas dan juga kesamaan dalam mengerjakan tugas karya tulis.
2.3     Tempat pertuturan yaitu di sekolah (SMA).
2.4     Situasi pertuturan dalam drama di atas termasuk resmi dan serius. Hal ini dapat dilihat dari setting tempat drama tersebut, yakni di lingkungan sekolah antara guru dan siswa.
2.5      Sasaran pertuturan dapat diperkirakan ditujukan pada remaja atau pelajar Sekolah Menengah.
2.6     Tujuan pertuturan yaitu memberi informasi, nasihat, dan nilai moral yang terkandung dalam drama.
2.7     Materi pertuturan termasuk peristiwa dalam dunia pendidikan.
2.8     Sarana pertuturan berupa tulisan (naskah drama satu babak).
2.9     Kesempatan yang tersedia untuk pertuturan bersifat bebas dan leluasa.

2.10 Bahasa yang dikuasai oleh mitra tutur merupakan bahasa partisipan sama yaitu bahasa Indonesia.

Jumat, 25 September 2015

drama pendek nasionalisme


PISANG LANANG
Karya Bang Ajiz
Tokoh :  1. KAKEK : Veteran yang sangat menjunjung tinggi nasionalisme
2. NENEK : Istri kakek yang setia namun agak sensitif
3. JOSEP : Anak sekolah yang nurut

PAGI HARI DI SEBUAH RUMAH TUA. ADA SEORANG KAKEK YANG HIDUP HANYA DENGAN ISTRINYA. BELIAU ADALAH MATAN VETERAN YANG SEDANG MERATAPI NASIB NEGERI INI.
Kakek : (Memegang topi veteran dan mengusap-usapnya) “hancur-hancur hancurr.. hancur sudah negara yang dulu kakek bela mati matian. Kini dimainkan seenaknya sendiri demi kepentingn perut sendiri. Sedih kakek ini sedihh. Sayang hanya kamu peninggalan kakek satu-satunya. Sayang setiap memegangmu kakek teringat masa gagah kakek. Teringat akan perang-perang melawan penjajah yang keji itu. Tapi sekarang hancurr hancurr.. moral anak makin rusak. Kemarin kakek lewat rumah orang dengar berita anak-anak SMP pada tawuran. Kakek Cuma bisa ngelus dada.. hancurr hancurrr..”
TIBA-TIBA MUNCUL NENEK  DENGAN PENUH EMOSI MEMUKUL SANG KAKEK
Nenek : “apa kek? Lagi mikirin siapa nenek denger dari belakang dari tadi sayang seyeng sayang seyeng” (dengan emosi) mikirke mantanmu kek? Iya mantanmu ? inget umur kek inget umur. Kulit sudah keriput seperti itu . nenek ini kurang apa kek? Inget siapa yang selalu ngerokin nek kakek masuk angin.? Siapa yang nyetrikain baju buat kakek? Siapa yang masakin buat kakek.?”
SI NENEK MELAPAS CINCIN PEMBERIAN KAKEK
Nenek : “ini kek nenek tidak butuh cincin ini lagi. Apa arti hidup bersama jika hati kakek masih untuk perempuan londo itu. Nenek benci kakek !”

NENEK HENDAK PERGI KEBELAKANG KARENA JENGKEL NAMUN KAKEK MEMEGANG TANGAN SI NENEK DAN KEMBALI MENGAMBIL CINCIN ITU
Kakek : “nek, jangan tiba-tiba langsung marah begitu. Kakek bukanya sedang memikirkan mantan kakek dulu nek. Cintaku Cuma buat nenek. Meskipun sampai sekarang kita tidak dikaruniai anak tapi cinta kakek hanya untuk nenek”.
Nenek : “apa kek?”
Kakek : “iya nek cuma nenek satu-satunya yang kakek cinta. Ini.. ini.. yang tadi kakek renungi. Ini nek.. ( sambil menunjukan topi veteran) ini yang kakek sayangkan. Dahulu dengan topi ini kakek berjuang demi menegakan merah putih. Tapi apa sekarang.. liat nek generasi muda sekarang sama sekali tidak menghargai perjuangan kakek dahulu..”
Nenek : “apa benar yang kakek katan barusan?”
Kakek : “benar nek.. sungguh.. kakek tak berdusta. Coba ingat.. apakah dari pertama kita jadian dahulu ketika tanggal 16 desember tahun 1945 tepat setelah selesainya pertempuran ambarawa melawan sekutu samapai sekarang kakek pernah mendustaimu nek?”
Nenek : “iya kek. Memang kakek tak pernah berdusta.. tapi nenek masih kerap kebayang tentang mantan kakek orang belanda itu kek..”
Kakek : “sudahlah nek yang lalu biarlah berlalu.. kita ini sudah tua . sudah tak patut membicarakan masalah cinta. Lebih baik sekarang cinta kita kita tujukan kepada tuhan maha pencipta alam. Siapa tau besok atau lusa bahkan nanti kita sudah tak ada lagi di dunia ini..”
Nenek : “iya kek. Maafin nenek..”
Kakek : “iya nek. Sudikah nenek membuatkan secangkir kopi untuk menghangatkan tulang belulang kakek yang renta ini”
Nenek : (sambil berjalan kebelakang) “hem ini kalau ada maunya.. manisnya..”
KAKEK MENDEKATI KURUNGAN BURUNG YANG SUDAH TAK ADA ISINYA.
Kakek : “ngger-ngger.. andaisaja kamu tak dicuri orang. Mungkin kakek akan lebih bahagia di pagi ini. Mendengar siulanmu yang merdu.. menenangkan hati. Kamu sedang apa disana ngger.. pakan di majikanmu yang baru kamu di beri makan, di mandikan, dan di jemur seperti apa yang kakek lakukan setiap hari?”
KAKEK MENCOBA MEMASANG KANDANG BRURNG KE DINDING NAMUN TIDAK BISA KARENA TIDAK ADA TEMPATNYA. KEMUDIAN ADA ANAK SEKOLAH BERJALAN LEWAT DEPAN RUMAH KAKEK
Kakek : “nak..!”
Josep : “iya kek ada apa?”
Kakek : “kesini sebentar..”
Josep : “iya kek.. ada apa?”
Kakek : “pegangin ini. Burung kakek..”
 Josep : “baik kek”
Kakek : “nama kamu siapa ngger?”
Josep : “Josep kek?”
Kakek : “siapa?”
Josep : (ke kuping kakek karena sudah rada terganggu pendengarannya) “Je O Es E Pe josep”
Kakek : “jo sep . jonya bejo sepnya kasep. Sepertinya tidak salah orangtuamu memberi nama kamu josep. Orangnya kasep dan semoga nasibnya  bejo. Tidak seperti kakek yang renta ini. Sudah tidak ada yang memperhatikan lagi.”
Nenek : “ini kek kopinya. Itu siapa anak mau berangkat sekolah kok kakek cegat. Kamu sekoalh dimana ngger?”
Josep : “SMPN 1 AMBARAWA nek”
Kakek : “anak SMP N 1 AMBARAWA memang nurut-nurut manut-manut. Seperti burung kakek dulu. Ketika kakek suruh bersiul pasti mau.. ketika kakek suruh tidur juga mau.”
Josep : “terus saya ngapin suruh ngapain di sini?”
Kakek : “sudah kamu pegin burung kakek dulu..”
Josep : “kan gak ada burungnya kek..”
Kakek : “burung itu memang sudah tidak ada. Tetapi jiwanya masih tertanam didada kakek. Seperti burung lambang negara kita..”
Josep : “tapi saya mau sekolah kek..”
Kakek : “sekolah itu gampang.. sini dulu kakek punya sesuatu buat kamu ngger,, (menambil sebuah pisang)”
Josep : “apa ini kek?”
Kakek : “kamu anak sekolah tapi kamu tidak tau itu apa? Kamu disekolah ngapain saja?”
Josep : “belajar lah kek”
Kakek : “itu pisang. Ya sudah sekarang apa yang bisa kamu pelajari dari pisang?”
Josep : “buah pisang bisa melancarkan pencernaan kek”
Kakek : “itu manfaatnya.!”
Josep : “lha terus apa kek?”
Kakek : “pisang itu simbol laki-laki..”
Josep : “kakek sudah tua tapi ngeres..”
Kakek : “yang ngeres itu pikiran kamu ngger..pisang itu simbol laki-laki.. sekali berbuah pohonya akan mati tidak akan berbuah lagi. Jadi jiak kamu laki-laki sekali mengambil keputusan ya sudah itu keputusanmu . sekali berkata ya sudah pegang kata-katamu. Jadilah orang yang dpat di percaya. Jadilah orang yang tegas. Jadilah orang yang berprinsip layaknya sebuah pisang.”
Josep : oh begitu. Siap kek..
Kakek : jagalah terus kepisanganmu nak. Sekarang berangkatlah sekolah raih cita-citamu. Jadilah orang yang berprinsip

JOSEP BERANGKAT SEKOLAH DAN KAKEK MASUK KE RUMAH 

Rabu, 09 September 2015

Naskah Drama "Sutradara"

SUTRADARA
Karya Bang Ajiz
SEMUA PEMAIN MELINGKAR DENGAN TANGAN DIRENTANGKAN. PEMANASAN UNTUK MEMULAI LATIHAN TEATER. JOKO BERADA DI TENGAH-TENGAH LINGKARAN UNTUK MEMIMPIN LATIHAN.
Joko       : di mulai dari kepala ya. Pandangan lurus ke atas tahan sampai hitungan ke delapan mulai
Semua    : satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. (dengan nada lemas dan tidak kompak)
Joko     :baik, selanjutnya ke arah sebaliknya.tahan sampai hitungan ke delapan. Mulai
Semua    : satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. (dengan nada lemas dan tidak kompak)
JOKO KESAL KARENA TEMAN-TEMANYA TIDAK SEMANGAT DAN TIDAK KOMPAK SAAT PEMANASAN.
Joko       : ayo dong semngat ahh. Jangan begini terus. Lanjut.. kepala patahkan ke kanan tahan samapai hitungan ke delapan. Mulai
Semua    : satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. (dengan nada lemas dan tidak kompak)
JOKO MELIHAT BANG BADAWI YANG SEDANG DUDUK MERENUNG SAMBIL MENGHISAP SEBATANG ROKOK DI WARUNG MAK IJAH.
Joko       : baik teman-teman. Kalian lanjutkan pemanasan. Saya mau bicara sebentar sama Bang Badawi
Semua             : iya jok.  satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.
JOKO MENGHAMPIRI BANG BADAWI
Joko     : Bang, ini bagaimana Bang ?
Badawi            : Bagaimana apanya Jok?
Joko    : ya pentas kita lah Bang? Derama kita. Ini sudah H-7 loh Bang. Pemain belum hafal naskah, musik belum ada, kostum masih nol. Bagaimana ini bang haduh?
Badawi            : Jok, kurang apalagi coba saya ? saya kerasin, mereka protes. Saya lembut malah meremehkan begini jok. Tahu lah jok saya bingung. (sambil menunjuk para pemain yang tidak melanjutkan pemanasan, tetapi malah asik ngobrol dan bermain handphone) apa mereka melanjutkan pemanasan jok ketika kamu tinggal kesini? Tidak jok, tidak
Joko    : lha terus itu tali buat apa Bang kok di iketin ke perut? Properti baru ya Bang?
Badawi            : iya jok
JOKO PERGI, KEMBALI KE PEMAIN AGAR MEREKA MELANJUTKAN PEMANASAN.
Joko    :ini kok malah pada berhenti. Malah mainan hp? (membentak)
Citra    : sudah selelsai mas joko ganteng, jangan marah-marah terus dong. Nanti gantengnya ilang
Joko    : iya dek citra cantik (sambil tersenyum sok manis)
Umi     :halah mas joko. Kalau sama citra aja. Lembuntnya minta ampun. Tapi kalau sama yang lain marah-marah mulu.
Joko    :namanya juga usaha (tertawa kecil) sudah-sudah. Latihan vokal sudah apa belu ini?
Umi     : belum mas.
Joko    : kok belum. Ayo mulai latihan vokal. Biar nanti pas pentas tidak mblerek suara kalian. Memalukan. Siapa ini yang mau memimpin? Jangan saya terus
Umi     : saya (sedikit membentak)
Joko    : ya sudah umi, sini ke tengah mi
BADAWI KEMBALI MENGHISAP SEBATANG ROKOK DAN MEMAINKAN TALINYA. SEMENTARA PARA PEMAIN SEDANG LATIHAN VOKAL
Umi     : tarik nafas dari hidung. Satu, dua, tiga, empat. Tahan di perut. Satu, dua, tiga, empat. Hembuskan dengan vokal A rendah. Begitu ya? Mulai
Umi     : Satu, dua, tiga, empat. Tahan di perut. Satu, dua, tiga, empat. Hembuskan dengan vokal A rendah.
Semua : Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa (dengan nada tidak beraturan sampai udara dalam perut habis)
Umi     : selanjutnya keluarkan dengan Vokal A sedang ya. Mulai. Satu, dua, tiga, empat. Tahan di perut. Satu, dua, tiga, empat. Hembuskan dengan vokal A sedang
Semua : Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa  (dengan nada tidak beraturan sampai udara dalam perut habis)
Umi     : kali ini hembuskan dengan Vokal A tinggi ya. Mulai. Satu, dua, tiga, empat. Tahan di perut. Satu, dua, tiga, empat. Hembuskan dengan vokal A tinggi
Semua : Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa  (dengan nada tidak beraturan sampai udara dalam perut habis)
Joko    : ayok dong, yang serius sedikit ah.. ingat. Kita sebentar lagi pentas woy
Umi     : apaan si ini. Mas joko marah-marah terus
Rara    : PMS kali nih mas joko
Joko    : PMS matamu ra. Inget woy inget. Kita ini mau pentas. Bukan mau bunuh diri di atas panggung. Apa kalian mau bunuh diri? Mau? Hah? (membentak)
Rara    :ya tidak mau lah mas (dengan nada menyesal)
Joko    : makanya. Serius sedikit lah. Bisa kan?
MENDENGAR RIBUT-RIBUT, BADAWI MEMANGGIL JOKO UNTUK MENDEKAT KE WARUNG MAK IJAH
Badawi            : Jok sini
Joko    : iya Bang, ada apa?
Badawi            : Sini dulu. Ini lho ngerokok. Jangan marah-marah terus jok
Joko    : saya ke Bang Badawi dulu, kalian lanjutkan pemanasan ya jangan kayak tadi. Awas loh
Semua : iya mas
JOKO MENDEKAT KE BADAWI YANG SEDANG NGOPI DAN MEROKOK DI WARUNG MAK IJAH
Joko    : yan, kopi satu ya
Yanti   :iya mas
Joko    : kamu manis banget yah.  tumben kamu sendirian. Ibu kamu kemana yan?
Yanti   :di rumah mas. Sakit. Dari kemarin badanya panas
Joko    : sudah periksa ke dokter yan?
Yanti   : belum mas
Badawi  : ini lho jok rokoknya, jangan di godai mulu itu, masih kecil
Joko    : saya itu tidak menggoda bang. Cuma perhatian sedikit.  (dengan tersenyum) lho kok belum si yan?
Yanti   : (sambil membawa kopi untuk joko)ke dokter? Duit dari mana mas? Lha wong buat sekolah saya aja susah. Gimana ibuk mau ke dokter. Saya sih sudah menyuruhnya mas. Tapi ibu tetep menolak. Lha kita kan Cuma bergantung dari warung kecil ini
Joko    : memang bapakmu kemana yan?
Yanti   : (sambil kembali ke warung) sudah mas jangan bahas bapak, saya kasihan sama ibu
Joko    : lho bang ada apa kok tadi manggil saya kesini
Badawi            : ah sudah lupa saya jok.
Joko    : jangan gitu dong bang?
Badawi            : begini loh jok. Menurutmu aku ini kurangnya gimana sih jok (sambil memainkan taali yang terikat di perut)
Joko    : Maksudnya bang?
Badawi            : begini loh jok, kok kesanya teman-teman pada meremehkan pentas kita ya?
Joko    : kalau menurut joko sih bang. itu bukan dari faktor abangnya. tetapi memang dari merekanya bang. liat saja itu. kalau ini datang itu tidak datang, kalau itu datang ini dan itu tidak datang. Pusing saya bang
Badawi            : ya sudah lah jok, kita mulai saja latihanya.
BADAWI DAN JOKO BERANJAK DARI KURSI DEPAN WARUNG MAK IJAH
Badawi            : Berapa ini yan?
Yanti   : Apa saja bang?
Badawi            : Kamu ngambil apa saja jok?
Joko    : kopi hitam satu gorengan dua
Badawi            : kopi dua, gorengan dua, pisang goreng satu. Berapa?
Yanti               :kopi item dua lima ribu, gorengan dua seribu, pisang goreg satu seribu, jadi tuju ribu bang.
Badawi            : ini yan jadi pas sama kuranangan kemaren 3 ribu.
Yanti : maksih bang.

BADAWI DAN JOKO MENUJU LAPANGAN UNTUK MEMULAI LATIHAN. PARA PEMAIN GUGUP KETIKA MELIHAT BADAWI MENDEKAT.SATU PER SATU PEMAIN MENYALAMI BADAWI
Citra    : bang kok sepertinya kelihatanya lemes banget, lagi kurang enak badan ya?
Badawi            : tidak cit, cuman lagi kepikiran sesuatu.
Citra                : mikirin apa hayo.. cewek ya bang.. ciye sudah punya cewe sekarang ciye..
Badawi              : halah citra ini. Apaan sih.. udah jangan kepo. Ayok siap-siap kita latihan. Oh iya ini siapa saja yang tidak berangkat?
Umi       : santo bang. Tadi ijin sama saya katanya lagi kurang mood latihan. Habis putus cinta kayaknya. Lagi gallau
Badawi  : oh ( menghela nafas)
Rara       : oh iya bang. Tadi saya ketemu dia di taman lagi nangis. Sepertinya bener umi. Dia lagi galau.
Badawi  : sudah-sudah kalian ini apapaan sih. Lha si siti kemana ini?
Rara       : kurang tau bang, males paling. Soalnya tadi sore abis belanja sama pacarnya. Kan pacarnya baru pulang dari jakarta
Badawi  : yang lain?
Umi       : itu si muji lagi ke belakang bang. Katanya mules perutnya
Badawi  : oh iya. Ya sudah. Kita mulai dari joko masuk ya. Ayo jok siap
Joko       : tumben malam ini kok panas banget ngggak kaya biasanya. Mau ada apa ya? (sebagai kakek)
Badawi  : cut. Begini loh jok. “tumben malam ini kok panas banget nggak kaya biasanya. Mau ada apa ya?” (dengan karakter vokal kakek-kakek)
Joko       : oh iya bang siap bang. “tumben malam ini kok panas banget nggak kaya biasanya. Mau ada apa ya? Halah ini orang-orang pada kemana ya sepi banget”
Badawi : cut. Jok, kamu sudah hafal dialogmu belum sih?
Joko       : hehehe belum bang (tertawa kecil)
Badawi : (menghela nafas) haduh. Joko joko. Kamu bawa naskah?
Joko       : ketinggalan bang.
Badawi  : ya sudah itu pinjem punya citra dulu
Citra      : lho kok punyaku. Aku juga mau ngapalin naskah. Jangan-jangan
Badawi  : ya sudah pinjem punya siapa kek
Muji       : maaf bang. Aku boleh izin pulang. Perutku sakit bang.
Badawi  ; ya sudah . pulang saja. Kamu jangan makan sembarangan ji. Itu naskahmu pinjemin ke joko dulu ji.
Muji       : ohh iya bang. Maksih ya..
Badawi  : iya. Jok. Dialogmu hafalin dulu. Sekarang mulai dari umi. Ayo mi.
Umi       : iya bang siap. “malem-malem ngapain di luar mbah, nanti masuk angin loh”
KARENA JOKO SEDANG MENHAFALKAN DIALOG MAKA BADAWI MENGGANTIKAN POSISI JOKO MENJADI SI MBAH
Badawi  : “halah kamu anak kecil tahu apa sih? Ini loh sepertinya ada pertanda dari yang kuasa. Firasat kakek rada nggak enak, sudah sana kamu masuk, belajar”
Umi       : loh pertanda apa sih mbah?
Badawi  : “kamu anak kecil mau tau saja, sudah sana belajar” (sambil merasa tidak enak di badanya karena masuk angin)
Umi       : tuh kan si mbah masuk angin (sambil mijitin pundak si mbah)
Badawi  : kamu kok mijit mbahmu sendiri begitu sih? Jangan gitu dong. Coba deh kamu bayangi lagi mijitin bapakmu atau mbahmu atau pacarmu mungkin. Sini biar aku praktekin. Ra.. rara.. sini kamu duduk. Beginin loh um, kamu perhatikan ini (sambil mijitin rara)
Citra      : halahh abag nih modus kok modus. Bilang saja mau pegeng-pegang rara. Hayoo..
Badawi  : kamu apaan sih cit, udah sini kamu yang jadi si mbah, biar tak pijit-pijit.
Citra      : nggak mau..
Badawi  : lha terus maumu gimana? (sedikit membentak)
Umi       : citra gitu kok, kalau latihan nggak bisa ngebedain mana yang bercanda mana yang serius
Citra      : (diem sambil menundukan kepala)
Badawi  : ini jam berapa ya. Ada yang bawa jam nggak?
Semua    : nggak bawa bang
Badawi : “menghela napas” haduh. Itu lho di hp kalian
Joko       : jam dua belas lebis seperempat bang
Badawi  : ya sudah malam ini sampai disini dulu, percuma juga di terusin kalian nggak pernah serius. Oh iya jangan lupa besok yang lain di kasih tahu. Biar berangkat semua. Bisa jadi besok latihan yang terakhir
Joko       : lho emang abang mau kemana? Kan pentas masih enam hari lagi bang?
Badawi  : iya. Nggak kemana-mana jok.
Rara      : bang itu talinya diiketin ke badan buat apa sih ?
Badawi : biar ngga masuk angin ra. Sebelum pulang marilah kita berdoa dulu. Berdoa mulai....... berdoa selesai
Joko   : yok kita tos dulu, teater bawah gunung...
Semua : sukses !
KEESOKAN HARINYA TERLIHAT KANG BADAWI SEDANG MEMEGANG TALI DISEBUAH POJOK LAPANGAN. TEMAN-TEMAN TERLIHAT USAI LATIHAN SEDANG MENGOBROL ADA JUGA JOKO YANG SEDANG MENGHAPALKAN NASKAH, UMI YANG SEDANG BERLATIH MEMIJIT. BADAWI MENGHAMPIRI PARA PEMAIN DAN MENGARAHKAN MENDEKAT KESEBUAH POHON YANG TADI IA PASANG SEUTAS TALI.
Badawi : ayo teman-teman kita berlatih kesebelah sana saja biar ada yang beda. Ayo propertinya bawa sana
Joko     : oke bang
SEMUA PEMAIN TERMASUK JOKO MENUJU KE SEBUAH POHON YANG SUDAH TERIKAT SEHELAI TALI TADI.
Citra     : lho kok itu tali seperti mau buat bunuh diri bang. Properti baru ?
Badawi : iya..
              Jadi begini lho saya akan menonton kalian latihan dari sini, nanti kalau kalian latihan sudah sesuai dengan apa yang saya harapkan, dan apa yang saya berikan kepada kalian selama ini, saya akan melanjutkan pentas ini. Tetapi jika kalian masih jauh dari apa yang saya harapkan saya akan loncat dari sini.
Rara      : Lho jangan begitu dong bang. Kami janji kami akan serius.
Badawi : iya gak papa, ayok segera saja latihan.
Joko     : ini mulai dari mana bang ?
Badawi : dari awal jok
Joko     : ayo prepare-prepare


JOKO MULAI MEMERAGAKAN ADEGAN
Joko   :tumben malam ini kok panas banget ngggak kaya biasanya. Mau ada apa ya? (dengan potongan kalimat yang kurang tepat karena belum begitu hafal naskah)             tumben sepi banget, ga ada orang satupunyang keluar lagi pada nonton ketoprak apa ya ? eh tapi kan ini malam jumat, biasanya di masjid rame orang pada ngaji ini kemana iya ? (sebagai kakek)
Umi  : malem-melem ngapain diluar mbah nanti masuk angin loh (sebagai Rina)
Joko  : halah kamu anak kecil tau apa sih ?
              Ini lho sepertinya ada pertanda dari yang kuasa, firasat kakek rada nggak enak, sudah sana kamu belajar ngapain sih masih diluar ? (sebagai kakek)
Umi   : lho pertanda, gimana maksudnya mbah ?(Sebagai Rina)
Joko   : itulah, sudah kamu masuk saja sana belajar ini urusan orang tua (sebagai kakek)
Umi    : orang tua kok nggak pernah salat (sebagai Rina)
Joko   : jangan ngajarin si mbah(sebagai kakek)
TERLIHAT IBU-IBU JALAN PULANG DARI MASJID
Citra   : lho mbah ngapain malam-malam diluar ? (sebagai bu wati)
Joko  : cari angin Ti, kamu dari mana itu rame-rame ? (sebagai kakek)
Citra : ini habis nengokin istrinya pak narso (sebagai bu wati)
Joko  : lho memang dia kenapa ? lahiran?(sebagai kakek)
Rara   : iya mbah, lahiran tapi nggak wajar (Sebagai Murni )
Joko   : nggak wajar bagaimana ? to Mur ? (Sebagai kakek)
Rara   : ya nggak wajar, anaknya mbah anaknya (sebagai Murni)
Umi   : kok simbah kepo sih ? (Sebagai Rina)
BABAK PERTAMA DRAMA BERJUDUL ANAK DEWASA TELAH USAI PEMAIN TERLIHAT GUGUP SAAT MENDENGARKAN KATA-KATA BANG BADAWI
Badawi : bagaimana teman-teman sudah ?
Semua  : sudah bang
Badawi : ini sepertinya masuk semua ya ?
Joko     : iya Bang
Badawi : sebelumnya saya minta maaf, bilamana saya banyak salah kepada kalian. Mungkin memang dengan cara seperti ini supaya kalian serius dulu berlatih dan mau menuruti keinginan saya. Terima kasih kalian sudah mau serius jujur saya senang tadi kalian sudah bisa lancar dalam bermain. Terima kasih
TIBA-TIBA KAKI BADAWI TERGELINCIR DARI KURSI TEMPAT IA BERDIRI DENGAN TALI DILEHER, DAN IA PUN TERGANTUNG DI POHON.
Badawi  : to..... to...... to....... tolong saya tolong saya
LAMPU BLACK OUT SEMUA PEMAIN TERIAK ABANG ABANG ABANG.